Free Bitcoin

Get Free Bitcoin Here

Monday, June 11, 2007

Setting GPRS pada Palm Tungsten W


Karena begitu banyak yang menanyakan cara setting koneksi GPRS untuk Palm Tungsten W yang saya pakai, berikut saya tuliskan langkah-langkah untuk membuat koneksi GPRS di Palm TW dengan menggunakan simcard Telkomsel GPRS. Poin-point penting setting GPRS untuk operator lain akan diuraikan dibagian bawah tulisan ini.

* Membuat Profile GPRS
1. Masuk ke menu Prefs
2. Pada bagian Communications pilih Connection
3. Buatlah Profile baru dengan men-tap New
4. Ubahlah tulisan Custom dengan Nama Provider GPRS yang akan kita gunakan, misalnya TSEL GPRS atau sesuaikan dengan nama operator lain.
5. Pada bagian Connect To pilih GPRS
6. Tap tombol Details lalu masukkan Access Point Name (APN): telkomsel (karena dalam contoh ini kita menggunakan Telkomsel GPRS. Sementara bagian lain tidak usah diubah atau jangan diisi
7. Tap tombol OK
8. Tap lagi tombol OK untuk kembali ke bagian Preference

* Selanjutnya kita akan membuat koneksi ke Network Service yang akan kita pakai.
1. Masuk legi ke bagian Prefs
2. Pada bagian Connection, tap Network
3. Pada bagian Service, pilih New Service dan beri nama Network yang akan kita pakai, misalnya Telkomsel atau sesuaikan dengan operator yang akan kita pakai.
4. Isi User Name dengan 'wap' (karena saya mencontohkan menggunakan GPRS Telkomsel)
5. Isi Password dengan 'wap123'
6. Pada bagian Connection, pilih profile GPRS yang sudah kita buat diatas tadi, dalam contoh ini TSEL GPRS
7. Tap tombol Connect untuk memeriksa koneksi, jika berhasil maka di layar PDA akan muncul tulisan Initializing, lalu Signing On dan Established, jika demikian berarti kita telah bisa terhubung dengan Internet melalui jaringan GPRS.
8. Tap tombol Disconnect untuk menutup koneksi
9. Tap tombol Done untuk mengakhiri

Mencoba koneksi dengan aplikasi Web Pro
1. Buka aplikasi WebPro (jika ada)
2. Pastikan WebPro langsung memanggil koneksi Network yang telah kita buat, dengan masuk ke menu Options - Network - Pilih Network yang kita miliki - tap Done
3. Jika WebPro langsung terhubung dengan Network yang kita miliki dan memanggil halaman pembuka, maka kita benar-benar telah berhasil membuat koneksi GPRS pada Palm Tungsten W.

Coba pasang aplikasi lain yang membutuhkan koneksi GPRS/Internet, seperti Verichat, QuickNews RSS Reader, SnapperMail, VersaMail, Worldmate (untuk sinkronisasi laporan cuaca dan Jam). Dan pastikan setiap aplikasi tersebut memanggil Network yang sudah kita buat agar dapat terhubung dengan Internet melalui GPRS.[]

Setting GPRS untuk Telkomsel
APN : telkomsel
User ID : wap
Password : wap123
Setting GPRS untuk Mentari :
APN : indosatgprs
User ID : kosong
Password : kosong

Setting GPRS untuk IM3 :
APN : www.indosat-m3.net
User ID : gprs
Password : im3

Setting GPRS untuk proXL :
APN : www.xlgprs.net
User ID : xlgps
Password : proxl

Semoga membantu dan jika masih ada pertanya silahkan hubungi saya via email di rosgani[at]gmail[dot]com atau YM di oki_rosgani[at]yahoo[dot]com, terima kasih.

Wednesday, June 06, 2007

Palm Foleo Mobile Companion

Baru-baru ini Palm memperkenalkan sebuah device baru yang sama sekali berbeda, tidak termasuk kategori PDA ataupun Smartphone, intinya, produk ini sangat jauh berbeda dari produk-produk Palm sebelumnya. Jeff Hawkins sebagai founder Palm, menamakan perangkat ini sebagai Mobile Companion, ya Foleo Mobile Companion, sebuah perangkat yang bentuknya mirip subnotebook dengan ukuran layar 10" dan memiliki tombol keyboard seperti halnya Subnotebook pada umumnya.

Dilengkapi dengan koneksi WiFi dan juga Bluetooth menjadikan perangkat ini bisa dipakai bagi mereka yang mobile atau istilahnya "mobile warrior", Dijejali dengan sistem operasi Linux dan aplikasi yang dapat secara otomatis mensinkronisasikan daftar alamat dan buku telepon juga e-mail dengan perangkat smarphone lain seperti Treo. Palm juga mengklaim bahwa Foleo bisa berjalan dengan Smartphone lain seperti SonyEricsson dan Nokia, yang penting Smartphone tersebut memiliki kemampuan Bluetooth.

Sayangnya perangkat ini tidak dilengkapi dengan kemampuan storage yang mumpuni, walaupun memang disediakan slot memory card namun hal ini terasa tidak sebanding dengan harga yang ditawarkan (US$ 599), karena seperti kita tahu bahwa saat ini harga laptop sudah mulai murah dan dengan kemampuan yang yang berlimpah pula. Perangkat ini pun tidak bisa menangani file-file multimedia seperti movie atau musik, hanya dapat menampilkan foto.

Saya melihat bahwa Palm justru sepertinya kehilangan visi akhir-akhir ini, padahal dengan munculnya produk Treo 650 saya melihat bahwa perusahaan ini sepertinya begitu mengerti terhadap kebutuhan konsumen, namun sejak adanya Treo 700w yang menanamkan sistem operasi Windows Mobile didalamnya, saya melihat arah Palm seakan tidak jelas, terlebih ketika Palm OS garnet tidak kunjung hadir dan kini malah memproduksi Foleo yang saya lihat sepertinya mundur kebelakang karena konsep produk ini pernah juga dibuat oleh Ericsson yang saat itu bekerjasama dengan Psion membuat Ericsson MC 218, namun sepertinya MC218 kurang suskses di pasaran.

Saya melihat Foleo tidak lebih dari sekedar alat untuk memperbesar layar dan keyboard saja, padahal untuk keyboard bisa diatasi dengan Palm Wireless Keyboard atau Palm Ultra Thin Keyboard dan saya sudah merasa puas dengan ukuran keyboard tersebut. Kemampuan instant-on yang dimiiki Foleo memang sebuah kelebihan namun kurangnya daya simpan dan tidak adanya kemampuan multimedia menjadikan kita harus berpikir dua kali untuk mengeluarkan kocek yang sebetulnya bisa juga dipakai untuk membeli sebuah laptop.

Bagaimanapun produk tersebut dan apapun alasan Palm membuat produk tersebut, sepertinya tidak menarik perhatian saya paling tidak untuk saat ini, karena sepertinya Palm masih akan terus mengembangkan dan memproduksi produk-produk lain yang lebih inovatif, semoga....[]

Saturday, May 19, 2007

Trik sederhana memantau koneksi server

Ketika saya ditugaskan untuk mengelola jaringan di tempat kerja, saya mulai belajar untuk menggunakan Aplikasi Linux Console mode karena memang server nya menggunakan Linux turunan Knoppix, setelah itu saya mulai teringat ketika beberapa tahun lalu saya pernah membaca di sebuah artikel bahwa sebuah server sebenarnya bisa dioperasikan secara remote. Alih-alih mengoperasikan server secara remote, mengoperasikan console Linux-pun saya masih tergagap-gagap dan masih harus ditemani oleh "buku primbon" yang beberapa tahun lalu saya beli dan mulai terasa manfaat buku tersebut ketika saya mendapat tugas ini.

Namun jika hanya sekedar untuk memeriksa jaringan koneksi lancar atau tidak, saya cukup menggunakan aplikasi messenger yang saya instal pada server, karena Linux yang saya gunakan adalah Depdiknux (distro turunan Knoppix yang dibuat khusus oleh Depdiknas bagi sekolah-sekolah yang tergabung dalam Jardiknas dan dikelola oleh ICT Center di kota masing-masing), maka aplikasi messenger yang saya gunakan tentu harus berbasis text user interface.

Dengan aplikasi CenterICQ (yang belakangan namanya berubah menjadi CenterIM), selain saya bisa melakukan instant messaging dengan para pengguna Yahoo Messenger, ICQ, AOL dan juga MSN, saya juga bisa memeriksa koneksi jaringan koneksi server yang saya kelola, kok bisa?, ya sederhana saja, dengan mengaktifkan dua buah account Yahoo Messenger (YM), yang salah satunya dijalankan di server dan satu lagi saya jalankan di PDA, sehingga jika saya sedang berada jauh dari kantor saya bisa memeriksa melalui PDA, jika account YM yang dipasang pada server tampil di PDA berarti jaringan memang sedang bagus dan sebaliknya jika account YM yang dipasang diserver tidak tampil pada layar PDA berarti telah terjadi sesuatu dengan koneksi server di kantor saya. Sayangnya saya belum bisa melakukan perbaikan secara remote terhadap server tersebut.

Jika ada rekan-rekan pembaca yang mengetahui bagaimana cara melakukan remote ke server, mohon untuk menghubungi saya secara japri di rosgani(at)gmail(dot)com, terima kasih yaaa []

Hilal dan MegaClock 1.9 di Palm

Setiap menjelang Ramadhan berakhir, terkadang muncul perbedaan pendapat diantara kaum muslimin mengenai datangnya hilal (kemunculan Bulan saat pergantian dari bulan Ramadhan ke Syawal) dan dengan munculnya bulan (Hilal) tersebut atinya kaum mulimin bisa mengakhiri puasa dan melaksanakan Idul Fitri.

Seperti yang terjadi pada Ramadhan tahun lalu, bahwa pada Minggu 22 Oktober 2006, selepas maghrib Pemerintah mengumumkan bahwa Idul Fitri dilaksanakan tetap pada tanggal 24 Oktober setelah melihat hasil dari para ahli hilal, bahwa pada saat itu tidak melihat adanya hilal. Namun bagi kaum Muhammadiyah, lebaran tetap dilaksanakan pada hari Senin 23 Oktober 2006. Saya tidak akan menanggapi perbedaan tersebut.

Namun pada aplikasi MegaClock di Palm, saya melihat adanya aplikasi yang bernama Moon Phases, disana digambarkan fase-fase bulan selama sebulan penuh. Ribut-ribut mengenai hilal saya melihat pada aplikasi Moon Phase di MegaClock pada Minggu siang dan melihat bahwa bulan benar-benar tidak tampak. Pada Aplikasi tersebut tertulis nama fase: New Moon dengan visible 0%, sementara umur bulan pada tanggal 22 Oktober 2006 jam 1:13:45pm adalah 0 hari 0jam 57menit, sementara jarak dari bumi adalah 403179 km.


Sebaliknya pada hari Senin tanggal 23 Oktober 2006 jam 1:38:28pm penampakan bulan sudah mencapai 1%, fase ini dinamakan waxing crescent, dengan umur 1 hari 1jam 22menit dan jarak dari bumi adalah. 401013 km.
Terlepas dari semua itu, pada intinya semua ini tergantung dari keyakinan kita masing-masing, dimana perbedaan pendapat mengenai pelaksanaan Idul Fitri bagi kaum muslim adalah sebuah khasanah yang harus kita terima.[]

Friday, May 11, 2007

Linux Console dan MacOS X

Sudah sejak dua tahun lalu saya mempelajari linux, tapi rasanya masih sangat awam terus, mengingat saya memang tidak belajar secara sungguh-sungguh.

Adapun Linux yang saya pelajari pada waktu yang lalu adalah berupa LiveCD dan dengan tampilan yang sudah "manusiawi" (user friendly, karena memang menggunakan mode GUI).

Akhir-akhir ini saya mendapat tugas dari tempat saya bekerja untuk menjadi admin jaringan, kebetulan server menggunakan Linux yang hanya menggunakan Console mode sebagai interfacenya, so saya kepaksa mempelajari kembali Linux console yang memang belum saya pahami sepenuhnya. Tapi ternyata bekerja dengan console malah lebih enak dan tidak banyak memakan waktu loading yang lama seperti halnya pada tampilan GUI, padahal komputer server masih menggunakan Pentium tua lho...

Antara MacOS X dan Linux Console

Baru-baru ini saya memang sedang kena demam ratjoen Mac, ratjoen yang sudah lama bersemayam ditubuh saya kini muncul kembali ke permukaan, saat ini mungkin sudah dalam tahap stadium IV, namun apalah daya, penawarnya sangat sulit untuk saya dapatkan... paling tidak dalam waktu dekat ini.

Beberapa alasan, kenapa saya begitu menyukai Mac :
- Tampilan GUI nya yang penuh animasi namun terkesan teduh, membuat saya langsung kepincut saat pertama kali memandangnya.

- Stabilitas sistem yang lebih baik dibanding OS yang selama ini saya gunakan, membuat saya merasa nyaman ketika terhubung dengan Internet, baik chatting, e-mail dan browsing tanpa takut terkena spyware, spamware dan virus atau trojan dan program-program perusak lainnya.

- Tampilan dan user interface yang intuitif membuat Mac terasa lebih user friendly, lebih mudah digunakan bagi pengguna awam sekalipun.

- Selain itu, pengguna awam yang tidak memiliki background IT tidak harus bingung jika akan menginstal aplikasi software atau hardware. Untuk menginstal software, hanya dibutuhkan beberapa klik dan drag ke folder aplication, begitu juga jika kita akan menguninstal atau menghapus program, tinggal men-drag-nya ke icon trash (tempat sampah).

Ingin pasang hardware baru?, tinggal tancapkan dan langsung jalan tanpa harus menginstal driver..bener-bener plug and play dan bukan plug and pray (tancapkan lalu berdoa semoga hardwarenya bisa jalan dengan baik) seperti yang sering saya alami di OS lain.

Sebenarnya masih banyak kelebihan-kelebihan lain yang dimiliki Mac seperti aplikasi Virtue Desktop, menjadikan kita seakan-akan memiliki lebih dari satu layar dan untuk berpindah ke layar lain ditampilkan dengan aplikasi yang bisa kita pilih, Spotlight adalah aplkasi bawaan MacOS yang sungguh cerdas, untuk menemukan sebuah kata, kalimat atau aplikasi cukup dengan menuliskan bagian hurufnya saja, ada juga QuickSilver, fasilitas pencarian yang serupa dengan Spotlight namun memiliki lebih banyak fungsi yang lebih banyak dan lebih dari sekedar aplikasi pencarian biasa. sementara aplikasi SubthaEdit adalah aplikasi yang menyerupai Notepad namun bisa diisi tulisan secara bersamaan melalui jaringan WiFi secara peer-to-peer dengan pengguna lain, sehingga kita bisa menulis secara bersamaan dan membuat tulisan secara keroyokan, ini berguna bagi kita saat melakukan meeting. Itu hanyalah sebagian kecil aplikasi yang saya tulis disini, sebenarnya masih banyak aplikasi lain yang lebih powerfull dan membuat saya makin keracunan.

Semakin saya melupakan Mac, semakin kuat keinginan saya untuk memilikinya, sebagai penawar sementara, saya mencoba mencari jalan alternatif dengan memasang MacOSX86.org pada PC tua saya, namun ternyata spesifikasi PC saya tidak memenuhi persyaratan minimal yang dibutuhkan, akhirnya sayapun pasrah dengan keadaan saat ini, dimana saya harus menelan pil pahit tiap pagi untuk menahan ratjoen Mac yang sangat dasyat.

Bersamaan dengan itu, dikantor tempat saya bekerja saya mendapat tugas baru untuk melola jaringan, diruang saya terdapat PC tua PIII dengan sistem operasi Linux Knoppix sebagai OS servernya, tamplan xwindowsnya dihilangkan sehingga saya harus menggunakan perintah console untuk mengoperasikannya, benar-benar seperti kembali ke tahun 80-an, dimana semua perintah harus ditulis dengan benar, tapi secara singkat saya bisa menikmati Linux tersebut walau saya harus mengingat semua perintahnya, sungguh sebuah pengalaman baru buat saya, dan saya makin menyadari bahwa ternyata saya sudah jauh tertinggal, karena saya baru mempelajari console menu di Linux, namun tidak ada kata terlambat untuk belajar, tiap hari saya disibukkan dengan mempelajari console menu di Linux, mulai dari chatting dan browsing dilakukan dengan text mode. Untuk chatting saya menggunakan centericq dan untuk browsing saya menggunakan aplikasi lynx, links dan elinks yang membuat saya jadi gak eling-eling sudah berjam-jam di depan komputer karena saking asyiknya...

Lambat laun, ratjoen Mac mulai berkurang walo tidak hilang secara utuh, bagaimana tidak, tiap hari saya chatting dengan orang-orang pengguna Mac dan browsing ke situs-situs yang menampilkan informasi seputar Mac, belum lagi sejak saya terkena ratjoen tersebut saya bergabung dengan milis Mac, secara tidak sadar saya memang meracuni diri sendiri dengan Mac....

Sunday, March 11, 2007

Vacation With Tungsten W

acatAwal Februari 2007 kemarin saya mendapat kesempatan untuk meliput le Tour de Langkawi 2007 di Malaysia, sebuah event balap sepeda terbesar se-Asia dan kedua terbesar di dunia setelah Tour de France.

Selama hampir 2 pekan saya berada di Malaysia, mengelilingi hampir separuh negara Malaysia yang dimulai dari pulau Langkawi, pulau yang bernuansa pantai mirip Bali dengan udara yang cukup panas dan membuat kulit saya makin gelap. Stage terakhir tour de Langkawi berakhir di Kuala Lumpur, kota dimana saya bisa melihat secara langsung menara kembar Petronas yang terkenal itu.

Beruntung saya menggunakan Tungsten W, sebuah PDA Phone dari Palm, karena dia memiliki kemampuan untuk menyimpan semua SMS yang masuk di handheld bukan di simCard sehingga saya tidak kehilangan SMS ataupun kontak ketika saya harus mengganti simCard saya dengan DiGi prepaid. Semua SMS yang sebelumnya masuk ketika saya menggunakan simCard Simpati masih tersimpan dan saya bisa mebalasnya walau saya sudah menggati simCard dengan simCard DiGi.

Selama di perjalanan, Tungsten W tersebut kerap saya gunakan untuk menulis kata-kata baru yang saya temukan dan juga menuliskan nama hotel dan nomor kamar yang saya tempati, karena memang tiap hari saya berganti hotel. Tungsten W tersebut juga saya gunakan sebagai pencatat alamat e-mail dan nomor telepon rekan media lain dari berbagai negara yang saya temui pada acara tersebut.

Intinya nggak nyesel deh punya Tungsten W, walau termasuk handheld tua tapi mash cukup berdayaguna dan bermanfaat buat memenuhi kebutuhan-kebutuhan saya, sebagai reminder, notes, maupun e-mail dan messaging. Terlebih ketika R520m saya sering saya gunakan sebagai GPRS modem di laptop, fungsi Tungsten W ini makin optimal untuk menggantikan ponsel saya sehari-hari... Bravo Palm OS..ooppps... Bravo Access, bravo Garnet OS!!!. []

Foto-foto saat saya di Malaysia bisa dilihat di http://picasaweb.google.com/rosgani

Saturday, March 03, 2007

Windows XP rasa Vista

Banyaknya berita yang menyiarkan kelebihan dan keindahan Windows Vista mengguggah saya untuk ingin mencoba dan merasakan Windows Vista, namun apa daya, karena Windows Vista mengharuskan penggunanya memiliki spesifikasi komputer yang tinggi dan itu artinya menguras kocek yang tidak sedikit.

Namun dengan sedikit usaha dan pencarian di Internet, akhirnya saya bisa mendapatkan skin untuk WindowsXP di laptop saya dengan tampilan Windows Vista lengkap dengan aplikasi ObjectDock, toh memang saat ini cuma penampilan saja yang saya perlukan ketimbang aplikasi Windowsnya.
Aplikasi Bricopack Vista Inspirat yang saya download dari situs http://www.crystalxp.net/bricopack/en.htm bisa menjadikan tampilan WindowsXP mirip dengan Windows Vista, Dan yang paling saya suka adalah ObjectDock, aplikasi ini mirip dengan tampilan pada layar desktop MacOS X dimana aplikasi bisa dipilih langsung pada desktop dengan sentuhan animasi scrolling yang khas. Icon-icon-nya pun bisa kita pilih sesuai keinginan. Aplikasi BrickoPack tersebut tidak hanya menambahkan tampilan pada desktop namun juga merubah semua icon, dan objek-objek lain pada Windows sehingga Windows yang saya gunakan mirip dengan Windows Vista. Ini cukup terbukti menarik perhatian rekan-rekan saya ketika mereka melihat tampilan desktop di laptop saya. It's time to show off he he he he...[]

Friday, January 12, 2007

Memilih Handset 3G : “TELITI SEBELUM MEMBELI”

Jika kita melihat kalimat judul di atas, rasanya bukanlah kalimat yang asing di telinga kita, walaupun kalimat tersebut cukup sederhana namun jika di telaah lebih lanjut isinya menyerukan kepada kita agar kita benar-benar teliti dan hati-hati dalam memilih barang, terlebih ketika kita akan membeli perangkat 3G dan memilih operator mana yang akan kita pakai.

Gembar-gembor teknologi 3G yang sudah didengungkan sejak beberapa tahun lalu, menawarkan keunggulan untuk dapat mengolah dan mengirimkan data multimedia secara real time pada sebuah perangkat mobile yang kita miliki, dengan teknologi ini nantinya kita tidak hanya dapat mengakses data secara cepat, namun melihat acara televisi siaran langsung dan bertatapan wajah dengan lawan bicara kita sambil bertelepon secara real time seperti halnya pada film-film futuristik, hal tersebut dapat dilakukan dengan ponsel yang memiliki fasilitas 3G ini.

Jepang adalah negara yang sukses menerapkan teknologi ini, NTT DoCoMo, sebagai salah satu operator seluler di negeri Matahari terbit itu telah menuai sukses besar dari layanan produk yang ditawarkan kepada konsumennya dengan layanan yang diberi nama i-Mode, para pengguna i-Mode dapat menikmati acara televisi, berkirim e-mail dan mengakses Internet langsung dari telepon genggam atau PDA-Phone nya.

Mungkin Jepang adalah satu-satunya negara yang pertama kali mengadopsi teknologi ini, bukan hanya di kawasan Asia namun juga di dunia. Hal ini terbukti bahwa di negara-negara Eropa dan bahkan di Amerika, layanan ini tidak begitu laris dan bahkan masih sepi peminat, bagaimana dengan Indonesia?.

Saat ini tiga operator seluler yang telah mendapatkan lisensi untuk menjalankan 3G di Indonesia adalah Telkomsel, Excelcomindo dan Indosat, seperti kita ketahui bahwa tiga pemain lama itu telah menguasai pangsa pasar GSM sebelumnya, rencananya tiga operator lama ini akan mulai memasarkan produk 3G-nya pada kuartal kedua tahun ini.

Namun selain tiga operator itu masih ada dua operator baru yang akan ikut meramaikan pasar 3G yakni Maxis melalui PT Natrindo Telepon Seluler (NTS) dan Hutchinson melalui Cyber Acces Communication (CAC). Keberadaan dua operator baru ini dipandang sebagai kekuatan baru untuk membuat struktur industri telekomunikasi di Tanah Air lebih kompetitif. Namun, kedua pemain baru ini akan sangat sulit mensejajarkan diri dengan tiga operator lama tadi di segmen pasar di mana tiga operator lama tadi sudah sangat mapan karena telah menguasai lebih dari 90% pangsa pasar di Indonesia.

Sekjen Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Rudiantara, mengatakan model bisnis yang tepat untuk 3G di Indonesia belum ada. Namun, konten diperkirakan akan menjadi layanan utama. Menurut dia, jika layanan hanya fokus pada data maka 3G akan mubazir. Gambaran yang ada untuk Indonesia adalah operator akan mencari model bisnis baru atau mengimplementasikan model yang sudah diterapkan di negara lain. "Dan yang pasti berkembang adalah konten," papar Rudi.

Di sinilah menariknya: secara komersial, layanan 3G baru akan diluncurkan. Tapi tentu kita tahu bahwa telepon seluler yang berkemampuan 3G sudah dijual–dan laris–sejak dua tahun lalu di Indonesia. Tampaknya pengguna layanan seluler di Indonesia lebih tertarik pada kemajuan handset ketimbang kecanggihan jaringan. Masyarakat kita yang menjadi begitu konsumtif karena lebih memilih “gaya” ketimbang “fungsi” (baca artikel pada edisi lalu: “Pilih Mana: Fungsi atau Gaya?”)

Kita sebagai end-user (pengguna akhir), hendaknya harus benar-benar teliti, memilih dan memilah, jenis layanan apa yang hendak kita manfaatkan?, untuk selanjutnya kita tinggal memilih bentuk handset apa yang akan kita pakai, sehingga kemampuan dari handset yang kita beli bisa lebih optimal dan berdayaguna dalam memfungsikan layanan 3G yang ada.

Beberapa pengamat telekomunikasi memprediksi bahwa Mobile TV mungkin akan menjadi aplikasi utama atau killer application, dimana akan menggunakan modifikasi atau penyesuaian yang berbeda dengan program TV konvensional biasa, dengan model ini pendapatan akan lebih banyak diarahkan ke server atau carrier dan bukan ke terminalnya. Meskipun saat ini masih belum bisa diprediksi secara cermat pemanfaatan teknologi 3G di masa depan, namun kita meyakini bahwa masyarakat dan industri memang harus masuk tahap perkembangan teknologi yang lebih maju. Dengan akan bergesernya pola pemanfaatan frekuensi dari layanan telekomunikasi generasi pertama (1G) ke 2G lalu ke 3G, maka tentu saja kita berharap memperoleh manfaat yang jauh lebih besar dan dapat memberikan nilai tambah kepada penggunanya.

Jika memang Mobile TV merupakan fasilitas yang akan banyak kita gunakan, hendaknya kita memilih handset yang memiliki kemampuan ini, saat ini begitu banyak produsen ponsel yang telah menjejalkan fasilitas ini dalam produknya. Sebut saja Nokia, perusahaan dari Finlandia ini telah mengeluarkan beberapa produknya dengan kemampuan ini, seperti N92 misalnya.

Salah satu fasilitas lain yang ada dalam fasilitas 3G adalah memungkinkan kita untuk bertatapan wajah dengan lawan bicara kita melalui layar ponsel atau istilah kerennya adalah video telephony, hal ini tentu menuntut handset yang memiliki kamera di bagian depan ponselnya. Sony Ericsson, Nokia, Samsung dan beberapa produsen lain seakan berlomba mengeluarkan ponsel yang memiliki kemampuan ini.

Permanfaatan dari fasilitas video telephony ini tentu akan lebih optimal jika digunakan oleh wartawan televisi, dimana kejadian dan peristiwa bisa diliput secara live tanpa harus membawa peralatan studio mini, kabel speaker dan kamera. Pihak studio cukup membekali wartawannya dengan sebuah handset yang memiliki kemampuan ini dan acarapun bisa dikirim secara langsung.

Beberapa fasilitas lain yang mungkin akan dijejalkan kedalam handset 3G ini adalah kemampuan dari fungsi GPS (Global Positioning System) yang juga dilengkapi dengan informasi peta dan data dari tempat-tempat penting seperti hotel, rumah sakit, pasar swalayan, ATM dan pom bensin, fungsi ini akan lebih bermanfaat bagi mereka yang sering melakukan perjalanan ke luar kota atau menjelajah hutan.

Untuk kaum remaja dan anak muda, handset 3G akan banyak digunakan untuk men-download file-file musik atau video klip kesukaan mereka, sarana tukar file (file sharing) akan lebih mudah dilakukan daam genggaman, bagi mereka yang sering curhat melalui media blog, jalur 3G akan lebih memanjakan para blogger unuk bisa lebih cepat meng-update situs blognya melalui handset yang mereka miliki.

Akhirnya, tentu bukan hanya handset yang harus kita pilih, namun kita pun harus jeli memilih operator 3G mana yang akan kita gunakan, dari kelima operator 3G tadi yang telah mendapatkan lisensi saat ini, belum ada satu operator pun yang benar-benar menawarkan semua service tadi, variasi kebijakan tarif dari tiap operator tentu menjadi salah satu penentu minat dari masyarakat pengguna. Saat ini mungkin terlalu dini untuk menilai setiap operator 3G yang ada, karena semuanya masih dalam tahap proses dari perkembangan teknologi komunikasi di negara kita saat ini. Tinggal kembali kepada kita sebagai konsumen, untuk bisa lebih teliti sebelum membeli, karena pada akhirnya konsumen lah yang akan memanfaatkan layanan 3G ini.[Q]

Tuesday, October 10, 2006

Peralihan dari Clie NR70 ke Tungsten W

Akhirnya saya bisa memiliki Tungsten W sepenuhnya (TW), jika sebelumnya saya hanya dipinjami TW untuk waktu yang lama, sekarang saya bisa memiliki TW tersebut secara utuh, pasalnya, teman saya yang tempo hari membeli TW menjualnya kepada saya dengan harga super miring, padahal TW nya masih dalam keadaan mulus, lengkap dengan batre yang masih prima begitu juga dengan systemnya.



Jika dibandingkan dengan Sony Clie NR70V, spesifikasi TW masih sangat jauh, terutama karena TW masih tergolong PDA yang lelet, karena masih menggunakan processor Dragon Ball 33 MHz, sementara Clie saya sebelumnya menggunakan prosesor Dragon Ball 66MHz yang dual kali lebih cepat dibanding TW, namun saya merasa TW memiliki sedikit keunggulan karena dilengkapi dengan fungsi GSM/GPRS dan built-in keyboard yang lebih nyaman digunakan dibanding Clie NR70V. Karena itu beberapa minggu setelah saya mendapatkan TW ini saya menjual Palm Wireless Keyboard saya ke teman saya namun belakangan saa menyesal karena mengetik tulisan panjang dengan Palm Wireless Keyboard jauh lebih nyaman dan lebih cepat ketimbang mengetik dengan thumb keyboard built-in di TW.

Saya menjejalkan Memory Card type MMC berkapasitas 256MB, yang didalamnya telah terpasang beberapa aplikasi favorit saya seperti BackUp Buddy VFS, MegaClock, FunSMS, iSilo eBook Reader, Game Bejeweled, Battery Graph, Grafitti Anywhere, Palm Reader, Resco Viewer, dan Resco Explorer. sementara pada memory internalnya saya memasang DocToGo, VeriChat, Snapper Mail, driver Keyboard dan WebPro selain beberapa aplikasi bawaan TW yang telah terpasang secara default.

Kemampuan penangan multimedia pada TW memang jauh dibawah Clie NR70V, itu karena kemampuan audio yang dimiliki TW tidak sesempurna Clie, namun layar TW masih jauh lebih bagus dibanding Treo 600, sehingga memainkan file Movie dengan Kinoma Player masih lebih bagus dan halus dibanding Treo 600. Adanya kemampuan GSM/GPRS yang ditanam pada TW membuat saya lebih leluasa untuk melakukan chatting, memeriksa email atau browsing tanpa harus melakukan pairing dengan ponsel seperti halnya pada Clie, sehingga saya bisa memeriksa e-mail sambil bersepeda pulang ke rumah kontrakan saya yang sempit sambil terus terhubung dengan rekan-rekan messenger saya yang melihat saya online padahal saya sedang mengayuh sepeda ke rumah.

Mengakses situs web dan situs wap dengan Web Pro memang tidak senyaman mengakses pada PC, namun hal ini cukup memenuhi kebutuhan saya yang hanya membutuhkan akses ke account Bloglines saya dan melihat ada berita terbaru apa yang muncul hari ini. Mengakses situs Klik BCA juga masih terbilang nyaman karena WebPro menghilangkan tampilan framenya, sehingga kita tidak harus menggulung laar kekiri dan ke kanan seperti halnya menggunakan browser Blazer.

Sedikit kekurangan pada TW bagi saya adalah sound yang dimilikinya masih terbilang standar dan bukan pilfonik, hal ini mungkin karena TW merupakan PDA Phone pertama dan polifonik ringtone belum menjadi trend saat itu. Untungnya TW memiliki fungsi getar yang cukup keras sehingga kita bisa merasakan adanya panggilan masuk atau SMS jika berada pada lingkungan yang berisik. Melakukan panggilan atau menerima panggilan harus selalu menggunakan handsfree, namun karena saya hanya menggunakan TW untuk melakukan chatting dan cek e-mail saja jadi kekurangan tadi tidak begitu berpengaruh buat saya.

Belakangan saya juga beruntung bisa mendapatkan kembali Palm Wireless Keyboard, alat yang sangat saya butuhkan, terlebih karena saat ini saya menjadi penulis lepas untuk beberapa tabloid, bukan hanya itu, kibor portable ini juga membantu agar built-in keyboard pada TW yang saya gunakan tidak cepat aus dan rusak. PWK ini saya dapatkan dari salah seorang teman milis yang sebelumnya pernah membeli Ultra Thin keyboard pada saya beberapa tahun lalu... he he he Halo Pak Ayub... [Q}

Ketemu Blogger Priyadi.net

Beberapa waktu lalu, saya mendapat tugas untuk mengikuti Pelatihan Produksi Video/Televisi di PUSTEKKOM Jakarta, pelatihan tersebut diadakan selama lima hari, materi pelatihan mencakup semua teori dan praktek pembuatan produksi sinetron. Acara dimulai hari Senin 28 Agustus 2006 dan berakhir hari Jum'at 1 September 2006.

Jum'at siang saya bertolak dari Wisma UT (tempat para peserta menginap) ke Pasar Minggu rumah kakak saya, dan Sabtu pagi saya mulai jalan-jalan ke ICT Depok untuk mencari kamera digital, selama dalam perjalanan saya meng-SMS Mas Priyadi pemilik situs blog Priyadi.net untuk meminta saran dan petunjuk toko yang banyak menjual barang-barang elektronik.

Sesampainya di ICT Depok saya menelepon Mas Pri untuk bertemu di food court, kurang dari sejam kemudian akhirnya kami bertemu setelah saya sedikit celingak-celinguk mencari Mas Pri yang memang tidak pernah bertemu sebelumnya. Sesaat kami ngobrol dan jalan-jalan di ICT Depok, namun karena tempatnya tidak ber-WiFi akhirnya kami pindah ke Depok Town Square (DETOS) yang letaknya tidak jauh dari situ. Dengan menggunakan mobil Mas Pri kami bertolak dari ICT Depok ke DeTOS.

Di DeTOS, kami mencari tempat di foodcourt, dimana kami bisa mengakses WiFi secara gratis, Mas Pri mengeluarkan laptop IBM Thinkpadnya dan mulai mendownload beberapa program Linux untuk dipasang di laptopnya, dengan suasana yang hangat kami saling bercerita mulai dari teknologi sampai keluarga. Kesempatan ini saya abadikan dengan menggunakan kamera yang ada pada Treo 650 milik Mas Pri. Kepiawaian Mas Pri menggunakan Linux memang tidak diragukan lagi, saat itu saya dibuat ternganga ketika melihat bagaimana beliau melakukan "problem solving" saat tiba-tiba akses WiFi terputus secara mendadak.

Saking asyiknya kita ngobrol, tidak terasa waktu sudah hampir menunjukkan pukul 4 sore, padahal saya harus pulang ke Subang, akhirnya kita berpisah dan saya langsung pulang rumah kakak saya di Pasar Minggu untuk menjemput cucian, sampai Subang pukul 8 malam dengan sekantong penuh cucian baju yang saya bawa sisa-sisa perjuangan saat pelatihan.[Q]

Belum Update Blog


Sudah hampir dua bulan saya tidak meng-update blog ini, selain kesibukkan pekerjaan yang menerpa juga karena waktu untuk menulis blog ini selalu bentrok, ya... bentrok dengan malas, padahal ide-ide secara implisit sering terlintas namun ide tersebut langsung terbang dan menghilang karena tidak langsung saya tuliskan..lho.. bukannya biasa menuliskan ide di PDA???

Nah justru ini awal mulanya, beberapa bulan lalu saya sempat memiliki tiga buah PDA sekaligus, Casio Pocket Viewer, Sony Clie NR70V dan Tungsten W, sedikit beruntung saya memiliki Tungsten W ini karena memang tanpa sengaja saya mendapatkannya dari teman saya yang saya racuni untuk membeli Treo 600. Karena telah mendapatkan Treo 600, teman saya menjual Tungsten W-nya dengan harga super miring, saking miringnya rasanya nggak etis kalo saya menyebutkan harganya disini he he he..

Hidup dengan tiga buah PDA memang cukup mengasyikan, terlebih ketika Clie NR70V meiliki fungsi MP3 Player dan memiliki layar yang lebar serta kamera built-in, membuat hidup penuh warna, waktu luang diisi dengan membaca eBook sambil mendengarkan musik, sementara untuk chatting dan memeriksa e-mail dilakukan di Tungsten W, adanya built-in GSM/GPRS pada Tungsten W membuat kehidupan ber-online saya semakin menjadi-jadi, bagaimana tidak, dengan Tungsten W ini saya bisa selalu always dan tidak pernah never untuk online di Yahoo Messenger, memeriksa e-mail bisa dilakukan secara otomatis setiap durasi waktu yang telah saya tentukan, alhasil Tungsten W saya bisa bertindak layaknya perangkat Blackberry yang selalu memberikan peringatan ketika ada e-mail yang masuk ke mailbox saya.

Hari demi hari saya lalui dengan status "always online" pada Yahoo Messenger, namun saya makin menyadari bahwa kebutuhan saya terhadap Clie NR70V sudah mulai berkurang, keharusan saya untuk selalu men-charge kedua batre PDA tersebut membuat saya sedikit ribet, terlebih ketika kabel USB Sync Charge Clie saya terjual kepada salah seorang teman milis. Akhirnya saya pun memutuskan untuk menjual Clie NR70V tersebut, namun dalam waktu yang hampir bersamaan saya di tawari Creative DiVi Cam 428, sebuah handycam mini yang sekaligus bisa berfungsi sebagai kamera digital 4 MPx, MP3 Player, alat perekam suara, dan juga USB Flashdisk, saya pun tergoda untuk memilikinya.

Namun sayang, Clie NR70V yang saya tawarkan di milis tidak bisa menemukan pemiliki barunya, sampai pada suatu hari ada seseorang yang ingin menjual Tungsten W karena orang tersebut ingin membeli gadget multimedia, iseng-iseng sayapun mencoba menawarkan Clie saya kepadanya dan penawaran saya disambut baik dengan kesepakatan bahwa kami mem-barter PDA masing-masing. Akhirnya, karena saya memiliki 2 buah Tungsten W maka saya menjual salah satu Tungsten W yang saya punya, uang hasil penjualannya saya belikan kamera Creative DiVi Cam 428.

Dengan kamera Creative DiVi Cam tersebut saya jadi suka foto-foto, ambil beberapa objek yang menurut saya menarik dan unik, namun harus saya akui bahwa hasil kamera buatan Creative tersebut tidak sesuai dengan kriteria yang saya inginkan, akhirnya saya menjual kamera tersebut dan membeli sebuah kamera digital Canon PowerShot A530, dengan kamera ini saya jadi kerajingan fotografi, sampai-sampai saya benar-benar keracunan dengan DSLR dan saya berniat untuk membeli kamera DSLR namun saya harus sadar akan kemampuan saya, bahwa harga kamera DSLR jauh dari penghasilan saya selama ini, jangan kan kamera DSLR baru, untuk membeli DSLR bekas pun masih jauh dari kemampuan saya.Namun sampai saat ini saya cukup puas dengan hasil kamera A530 tersebut, hasil foto-foto saya bisa dilihat di http://rosgani.multiply.com/photos/ beberapa objek sudah berhasil saya ambil walau dengan susah payah karena keterbatasan kemapuan fotografi saya dan juga keterbatasan kemampuan kamera yang saya miliki.

Dari mulai peralihan saya dari Clie NR70V ke Tungsten W dan menemukan mainan baru kamera digital, selama kurun waktu tersebut, saya nyaris lupa untuk meng-update blog, beberapa kejadian unik seputar barter, serta perjalanan tugas di PUSTEKKOM, juga pengalaman terjualnya kibor wireless saya dan juga pertemuan saya dengan Blogger favorit saya Priyadi belum sempat saya tuliskan di blog ini, walau sebenarnya keinginan untuk menuliskan semua itu sering terlintas secara implisit di kepala, namun entah kenapa sampai saat ini saya belum bisa menuliskannya, mungkin dalam waktu dekat satu per satu akan saya tulis agar blog ini tidak sepi lagi...salam hangat dari Subang [Q]

Friday, August 04, 2006

Gathering Gadtorade, 23 Juli 2006


Minggu pagi, 23 Juli 2006 saya bertolak dari Subang menuju Bandung untuk menghadiri acara ulang tahun ke -5 milis Gadtorade (Gadget To Trade) milis jual-beli gadget.

Berangkat dari rumah pukul 8.10 pagi, dengan dibonceng motor vespa salah satu ketua club motor di kota saya, kami melaju dengan kecepatan sedang dengan sesekali menarik gas dengan kecepatan penuh. Awan sedikit mendung namun untung saja tidak turun hujan. Ditengah perjalanan cuaca mulai cerah namun udara sedikit dingin dan itu membuat perjalanan menggunakan motor menjadi lebih nyaman.

Lokasi gathering diadakan di Atmosphere Cafe yang terletak dijalan Lengkong nomor 97 Bandung, sesampainya disana waktu masih menunjukkan pukul 9.30-an sementara menurut jadwal, acara akan diadakan pukul 10.00, disana sudah ada Boss Lucky, Pak Yusuf, Pak Zay beserta rombongan dari Jakarta serta Pak Herry S.W. salah satu dedengkot milis Gadtorade yang sengaja terbang dari Surabaya ke Bandung, beliau yang sebelumnya saya kenal hanya melalui postingan atau smsnya saja

Yang membuat saya salut dan tersanjung, ternyata Pak Herry mengingat saya bahkan sampai gadget yang saya pakai saat awal-awal perkenalan kami, yakni Palm m500 sementara saat ini saya menggunakan Sony Clie NR70V.

Acara tersebut disponsori oleh SonyEricsson dan Indosat, dan karena itu ponsel M600i menjadi door prize utama selain beberapa merchandise seperti ransel laptop, t-shirt, jaket, dan topi, sementara Pak Galih sebagai salah satu anggota milis juga menyumbangkan 180 kaleng minuman ringan yang dibagikan secara cuma-cuma untuk dibawa pulang para peserta.

Pak Herry S.W. menjadi MC dadakan saat itu membawakan acara menjadi terkesan lebih akrab dan kocak, diselingi oleh presentasi para sponsor yang memperkenalkan produk andalannya, sementara para SPG dan SPB sibuk berkeliling memberikan bocoran gadget-gadget yang akan keluar dipasaran Indonesia dalam waktu yang akan datang.

Acara berlangsung sangat santai dan penuh keakraban, para anggota terlihat sangat akrab walau mereka baru pertama kali bertemu, maklum karena sebelumnya memang sudah saling mengenal walau hanya lewat tulisan saja. Walapun begitu ada juga yang sudah saling kenal sebelumnya.

Pada kesempatan itu, saya menjadi salahsatu peserta yang membawa ponsel Ericsson atau SonyEricsson paling banyak beserta accessories originalnya dan karena itu saya mendapatkan hadiah berupa USB Flashdisk merek Transcend berkapasitas 512MB, selain itu saya juga mendapatkan hadiah berupa Topi karena mengajukan pertanyaan kepada pihak SonyEricsson pada saat presentasi, peserta lain pun banyak yang mendapatkan hadiah ada yang berupa Majalah Chip CD, juga USB FlashDisk, sementara Ponsel M600i tidak saya dapatkan.

Menjelang selesai acara Pak Galih yang dibantu Pak Fajar membagikan minuman Coca-Cola kaleng kepada seluruh peserta, hal ini membuat ransel saya semakin penuh baik oleh hadiah ataupun oleh barang yang saya beli yakni audio speaker mini untuk iPod yang ternyata bisa jalan di Clie saya, agak lucu saat mendapatkan speaker ini karena sebelumnya Speaker ini sudah dibeli oleh Mas Sandy tapi saya meminta agar dia mau menjualnya lagi ke saya. Saya juga membeli sebuah stylush pen multi fungsi yang bisa digunakan sebagai ballpoint biasa, stylush, senter dan juga laser pointer.

Sepertinya pihak panitia dan semua peserta gathering merasa puas karena acara berjalan sangat sukses dan lancar, sesampainya di rumah saya membongkar semua hadiah dan mencoba semua barang yang saya dapatkan, Speaker ipodnya lumayan bagus untuk menemani saya disaat sepi, reviewnya akan saya buat dalam tulisan terpisah.[]

Tuesday, July 11, 2006

The Daily Me

Judul di atas adalah sebuah sebutan yang diberikan oleh Nicholas Negroponte dalam bukunya Being Digital untuk sebuah koran digital yang dikhususkan bagi seseorang yang isinya benar-benar dibuat secara personal untuk pembacanya, didalamnya hanya memuat berita yang hanya dikehendaki oleh pembacanya, termasuk jadwal kegiatan orang tersebut selama satu minggu atau satu bulan penuh. Tentu saja, koran itu tentu tidak benar-benar ada, namun dengan sebuah perangkat genggam seperti halnya PDA atau PocketPC saat ini, kita bisa mewujudkan impian Nicholas Negroponte saat itu.

Dengan PDA dan situs Bloglines saat ini, saya bisa membaca situs-situs berita dan situs teknologi favorit saya setiap pagi, terlebih setelah hadirny fasillitas RSS Reader, semua situs yang telah dilengkapi dengan fasilitas RSS bisa kita gunduh dan informasi bisa diberikan secara langsung kehadapan kita tanpa kita harus membuka dan mencari situs mana yang sudah di update setelah itu kita tinggal memilih artikel mana yang ingin kita baca pertama kali.

Mengatur kegiatan selama satu minggu, satu bulan atau bahkan satu tahun penuh pun dapat dilakukan dalam sebuah PDA karena itu disebut PDA (Personal Digital Assisstant), jauh ketika awal-awal kemunculan PDA memang telah dijejali dengan fungsi Personal Information Manger, yang didalamnya mencakup buku alamat, daftar tugas, jam, pengingat, alarm dan catatan.

Saat ini surat kabar impian Nicholas Negroponte yang dinamakan The Daily Me tadi telah benar-benar hadir di hadapan kita, kini tinggal bagaimana kita memanfaatkannya.[]

Voice Tag/Voice Command

Beberapa produsen ponsel terkemuka sudah sejak lama menjejali produknya dengan fasilitas voice tag atau voice command namun hingga hari ini tetap saja fasilitas tersebut tidak bisa difungsikan secara maksimal. Padahal jika dilihat dari tujuan latar belakang pembuatan fasilitas tersebut sangatlah jelas bahwa untuk menjawab atau melakukan panggilan telepon, penggunanya tidak harus menekan banyak tombol pada ponsel, hal ini tentu sangat berguna saat kita sedang berkendaraan atau saat tangan kita sedang mengerjakan aktivitas lain.

Kenyataanya saat ini masih banyak para pengguna ponsel yang tidak benar-benar menggunakan fasilitas ini dalam keseharian mereka, bukan karena fasilitas ini tidak berguna namun lebih pada masalah teknis dimana ponsel yang memiliki fasilitas ini tidak benar-benar mengerti perintah suara pemiliknya sendiri, karena memang pada kenyataanya ponsel ataupun smartphone bagaimanapun juga tetaplah sebuah benda mati yang bodoh..

Saya sendiri saat ini lebih banyak menggunakan fasilitas tersebut haya untuk merubah profile saja ketimbang untuk melakukan panggilan, hal ini sangat berguna ketika saya ingin menyalakan lampu layar ponsel dalam suasana gelap sehingga saya tidak usah banyak menekan tombol. Bagaimana dengan Anda?[]

Monday, July 10, 2006

Screen Protector from Brando



10 hari setelah saya tunggu-tunggu akhirnya sampai juga screen protector untuk PDA Sony Clie NR70V saya, screen protector tersebut saya dapatkan secara gratis dari pihak Brando Workshop Hongkong setelah kami sepakat melakukan barter, pihak Brando menyimpan banner animasi di blog saya dan sebagai imbalannya saya meminta Ultra Clear Screen Protector dari pihak Brando Workshop. (Banner animasi berukuran 100x100 pixel tersebut bisa anda lihat di sebelah kanan dari halaman ini)

Ini adalah kali pertama saya memasang sendiri screen protector pada PDA saya, hasilnya lumayan juga walau awalnya sedikit mencong sehingga harus beberapa kali diulang-ulang namun akhirnya saya bisa memasang sendiri screen protector tersebut dengan sempurna.

Kini, menyentuh layar PDA dengan stylush terasa lebih empuk dan enak tanpa mengurangi sensitifitas pada permukaan layar Clie saya, tampilan layarpun tetap cemerlang dan nyaris tidak terlihat kalau layar PDA tersebut telah dipasangi screen protector, mungkin ini karena jenis screen protector yang saya pakai adalah type Ultra Clear, sementara untuk type lain Brando menyediakan Screen Protector jenis Anti-Glare.

Memainkan game atau menulis grafitti dengan stylush menjadi lebih yakin, tanpa ada rasa ragu karena takut permukaan layar jadi aus atau baret-baret, begitu juga ketika kita malas untuk mengeluarkan stylush, memilih menu atau menekan tombol pada layar bisa dilakukan langsung dengan jari atau kuku tanpa takut layar PDA jadi rusak, Thanks Brando!!! []